Indonesia

IDENTIFIKASI RESIDU PESTISIDA PADA SAYURAN OLEH : TULUS PAUL KIMHAM SIMANJUNTAK BALAI BESAR KARANTINA PERTANIAN SOEKARNO HATTA TANGERANG 2019 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Keberagaman jenis pangan dan keseimbangan gizi dalam pola konsumsi pangan dibutuhkan tubuh untuk hidup sehat, aktif, dan produktif. Sayuran dan buah-buahan merupakan salah satu kelompok pangan dalam penggolongan FAO yang dikenal dengan desirable dietary pattern (pola pangan harapan/PPH). Kelompok bahan pangan ini berfungsi sebagai sumber vitamin dan mineral, sehingga kekurangan konsumsinya berpengaruh negative terhadap kondisi gizi. Oleh karena itu diperlukan kosumsi sayur-sayuran dan buah-buahan bersama-sama dengan kelompok pangan lainnya sehingga kondisi kesehatan pada umumnya dapat tercapai. Selain berfungsi sebagai sumber vitamin dan mineral, berbagai jenis sayuran juga berfungsi sebagai sumber antioksidan dan serat yang tidak dapat digantikan oleh bahan pangan lain. Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan kesejahteraan masyarakat, maka kebutuhan terhadap jenis dan kualitas produk makanan juga semakin meningkat dan beragam (Anonim, 2013). Produksi sayuran sering menghadapi kendala serangan hama dan penyakit yang menyebabkan gagal panen atau berkurangnya hasil panen. Salah satu cara yang digunakan untuk mengatasi hama dan penyakit adalah penggunaan pestisida. Pestisida merupakan suatu substansi bahan kimia dan material lain mikroorganisme, virus, dll, yang tujuan penggunaannya untuk mengontrol atau membunuh hama dan penyakit yang menyerang tanaman, bagian tanaman, dan produk pertanian, membasmi rumput/gulma, mengatur, dan menstimulasi pertumbuhan tanaman atau bagian tanaman, namun bukan penyubur (Rianto 2006 dan Sanborn et al., 2002). Program pengendalian hama penyakit terpadu (PHT) membuktikan bahwa produksi hasil pertanian dilakukan tidak hanya mempertimbangkan aspek tingginya tingkat produksi, tetapi juga aspek keberlanjutan produksi, kelestarian lingkungan, dan keamanan pangan (Harun et al., 1996). Penggunaan insektisida pada tanaman pangan, termasuk sayuran meningkat 20 kali lipat selama 25 tahun sekali. Meskipun PHT telah diterapkan, pada prakteknya masih banyak petani yang menggunakan pestisida secara berlebihan. Pestisida yang terdapat pada tanaman dapat terserap hasil panen berupa residu yang dapat terkonsumsi oleh konsumen. Residu pestisida dapat berasal dari pestisida yang terpapar langsung pada produk atau terserap dalam tanah, terutama pada tanaman yang dipanen umbinya (Winarti dan Miskiyah, 2010). B. TUJUAN Tulisan tentang identifikasi residu pestisida pada sayuran dilakukan mempunyai tujuan sebagai berikut, yaitu : 1. Penggunaan insektisida yang berlebihan pada tanaman pangan, termasuk sayuran yang dapat terkonsumsi oleh konsumen dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia 2. Untuk mengetahui dan mempelajari jenis-jenis residu pestisida pada tanaman pangan, termasuk sayuran TINJAUAN PUSTAKA Sayuran merupakan salah satu menu sehat dalam mencukupi kebutuhan gizi seimbang, baik sayuran hijau maupun sayuran berwarna lain. Lingkungan tempat tumbuh sayuran sangat mempengaruhi kualitas sayuran terutama jenis tanah dan air penyiraman. Sayuran yang tumbuh diwilayah tercemar atau disiram dengan air yang tercemar, mengindikasikan sayuran tersebut dapat tercemar oleh bahan berbahaya terutama logam berat. Sayuran merupakan salah satu menu sehat dalam mencukupi kebutuhan gizi seimbang, baik sayuran hijau maupun sayuran berwarna lain (Gizi Seimbang/PMK.41/2014). Permasalahan utama dalam budidaya sayuran yaitu serangan hama dan penyakit tanaman yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas produksi. Oleh karena itu, petani menggunakan pestisida untuk mengatasi serangan hama dan penyakit tanaman tersebut. Penggunaan pestisida yang tidak sesuai dengan aturan menyebabkan sayuran menjadi tercemar oleh pestisida tersebut. Akibatnya banyak sayuran yang yang beredar di pasaran mengandung residu pestisida yang melebihi batas maksimum (BMR). Residu insektisida golongan organofosfat ditemukan pada jenis sayuran cabai dan wortel dengan kandungan profenofos 0,11 mg/kg, deltametrin 7,73 mg/kg, klorpirifos 2,18 mg/kg, tulubenzuron 2,89 mg/kg, dan permetrin 1,80 mg/kg (Soemirat, 2003). Residu pestisida diazinon pada bawang merah dari Alahan Panjang dan Sungai Nanam Kecamatan Lembah Gumati Padang telah melewati nilai BMR yaitu 2,006 mg/kg dan 1,764 mg/kg (Asmita, 2010). Sayur bayam, kangkung, sawi/ caisim merupakan sayuran yang mengandung kalori, karbohidrat dan protein cukup tinggi dapat membantu dalam pemenuhan kekurangan gizi protein maupun karbohidrat. Sayuran sehat adalah sayuran yang bebas dari zat pencemar maupun mikroba yang membahayakan kesehatan. Sumber pencemar yang umum terjadi di lingkungan air tanah dan udara dapat berasal dari logam berat. Untuk sayuran selain logam berat ancaman terjadinya kontaminasi bahan berbahaya berasal dari pestisida (Lagu dkk, 2015). Penggunaan pestisida yang berlebihan serta kesalahan penanganan sayuran pasca panen, menyebabkan sayuran menjadi tidak sehat untuk dikonsumsi. Berdasarkan hasil penelitian Tuhumury,dkk (2012) menyebutkan bahwa residu pestisida golongan organokhlorin, organophosfat, karbamat dan piretroid ditemukan pada sayuran bayam, kangkung, sawi dan kacang panjang. Lingkungan tempat tumbuh sayuran sangat mempengaruhi kualitas sayuran terutama jenis tanah dan air penyiraman. Sayuran yang tumbuh diwilayah tercemar atau disiram dengan air yang tercemar, mengindikasikan sayuran tersebut dapat tercemar oleh bahan berbahaya terutama logam berat. Menurut Indrajati, dkk dalam penelitiannya tentang kandungan Timbal dalam sayuran kangkung disebutkan bahwa kandungan Pb dalam kangkung yang berumur 6 minggu sebanyak 3,36 mg/kg yang melebihi jumlah maksimum yang diperbolehkan yaitu 2 mg/kg (Badan POM). Sedangkan Kandungan merkuri (Hg) pada beras yang dipanen dari sawah dengan irigasi air limbah penambangan emas tradisional di Nunggul dan Kalongliud di sekitar Pongkor, Bogor, Jawa Barat mencapai 0,45 dan 0,25 ppm (Sutono, 2002) Anonymous (2005). Untuk jenis sayuran yang tidak berwarna hijau tidak terdeteksi adanya pestisida yaitu ≥0,1 mg/kg sesuai dengan hasil penelitian Elvinali Herdariani, dkk. Sayuran sawi putih kandungan pestisidanya masih dibawah ambang batas yaitu 0,0197 mg/kg sesuai dengan penelitian Vivi Filia Elvira, dkk. Sayuran merupakan sumber pangan yang mengandung banyak vitamin dan mineral yang secara langsung berperan meningkatkan kesehatan. Oleh karena itu, higienitas dan keamanan sayuran yang dikonsumsi menjadi sangat penting agar tidak menimbulkan gangguan kesehatan. Beberapa jenis sayuran yang beredar di masyarakat tidak terjamin keamanannya karena diduga telah terkontaminasi logam-logam berat seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), atau merkuri (Hg). Menurut Astawan (2005), logam-logam berat tersebut bila masuk kedalam tubuh lewat makanan akan terakumulasi secara terus-menerus dan dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan gangguan sistem syaraf, kelumpuhan,dan kematian dini serta penurunan tingkat kecerdasan anak-anak. Residu pestisida dapat tersimpan di dalam tanah selama bertahun-tahun dan dapat merusak komposisi mikroba tanah, serta mengganggu ekosistem perairan. Residu pestisida dapat tercuci dari tanah melalui air permukaan tanah (erosi) sehingga berpindah ke lokasi lain disekitarnya. Residu pestisida pada tanaman dapat masuk ke jaringan tanaman atau permukaan tanaman. Beberapa jenis pestisida lipofilik cenderung terakumulasi pada lapisan lilin dan lemak tanaman di bagian kulit. Pestisida masuk ke dalam jaringan tanaman melalui proses adsorbsi tanaman dan di dalam jaringan tanaman pestisida menyebar melalui proses translokasi dan metabolisme tanaman (Norris, 1974). Proses degradasi residu pestisida adalah proses penguraian pestisida setelah digunakan melalui proses mikroba, reaksi kimia, dan sinar matahari. Residu pestisida dapat terurai melalui pencucian, penguapan, pelapukan, degradasi enzimatik, dan translokasi. Pestisida dapat berpindah ke lokasi lain pada permukaan tanah akibat erosi, aliran air, sungai, laut, dan hembusan angin. Lamanya proses degradasi residu pestisida tergantung pada kondisi lingkungan dan sifat-sifat kimia pestisida (Manuaba, 2009). Jumlah residu pestisida pada tanaman tergantung pada cara, waktu, frekuensi aplikasi, dan dosis. Hasil penelitian Dibyantoro (1979) menyebutkan bahwa semakin dekat waktu penggunaan pestisida dengan masa panen akan menyebabkan peningkatan jumlah residu pestisida pada tanaman. Hasil pertanian yang beredar di Indonesia baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri tidak boleh mengandung residu pestisida melebihi Batas Maksimum Residu (BMR). BMR didefinisikan sebagai konsentrasi maksimum residu pestisida yang secara hukum diizinkan atau diketahui sebagai konsentrasi yang dapat diterima pada hasil pertanian, bahan pangan, atau bahan pakan hewan. Konsentrasi tersebut dinyatakan dalam miligram residu pestisida per kilogram (Kelompok Kerja Penyusunan Revisi Metode Analisis Residu Pestisida pada Hasil Pertanian, 2004). Setiap negara memiliki kebijakan pertanian mengenai batas residu maksimum. BMR yang diizinkan bervariasi di setiap negara tergantung pada wilayah dan kondisi iklim serta geografis. Batas residu maksimum internasional telah dikeluarkan oleh FAO dan WHO di tahun 1963 mengenai pengembangan standar pangan internasional, kode panduan penerapan, dan rekomendasi untuk keamanan pangan. Standar internasional yang berkaitan dengan pangan yang merupakan hasil rumusan dari Codex Alimentarius Commission (CAC). CAC adalah badan antar pemerintah yang dibentuk oleh FAO dan WHO (Joint FAO/WHO Food Standards Programme). Codex dibentuk dengan tujuan antara lain untuk melindungi kesehatan konsumen, menjamin praktek yang jujur dalam perdagangan pangan internasional serta mempromosikan koordinasi pekerjaan standardisasi pangan yang dilakukan oleh organisasi internasional lain (Menteri Kelautan dan Perikanan, 2012). Oleh karena itu, perlu dilakukan pengawasan terhadap penggunaan pestisida melalui pemenuhan nilai BMR (Batas Maksimum Residu) sehingga dapat menjamin keamanan pangan dengan cara membatasi kadar residu pestisida pada komoditas pangan. Senyawa organofosfat adalah senyawa yang toksik karena mempengaruhi sistem saraf dengan cara mengacaukan kerja enzim yang meregulasi asetilkolin, yaitu suatu neurotransmitter yang diperlukan agar saraf kita dapat bekerja secara normal. Pada umumnya pestisida organofosfat termasuk dalam insektisida. Pestisida ini tidak persisten baik di lingkungan maupun dalam makhluk hidup, termasuk pada tanaman. Akibatnya, untuk memperoleh kadar pestisida yang efektif diperlukan penyemprotan dengan frekuensi yang meningkat. Senyawa organoklorin bersifat tidak mudah menguap, tidak larut air, kecuali lindane, mudah larut dalam pelarut organik. Dalam lingkungan bersifat persisten, sedangkan dalam jaringan tanaman mengalami biotransformasi menjadi metabolit yang dapat lebih beracun. Sampel makanan, seperti sayuran, buah dan sampel tanaman obat, memiliki susunan matriks yang sangat kompleks sehingga membutuhkan ekstraksi yang optimal akurat, ekonomis, dan efisien untuk analisis rutin. Berbagai prosedur ekstraksi pestisida organoklorin dan organofosfat yang sudah dipublikasikan di artikel ilmiah antara lain, ekstraksi pestisida dari buah dan sayur dengan SPE dengan pelarut asetonitril (Supelco, 1997), preparasi sampel untuk analisis residu pestisida pada sayur dan buah dengan menggunakan asetonitril (Takatou et al., 2011), ekstraksi 229 pestisida dalam buah dan sayur dengan pelarut asetonitril (Lehotay, et al., 2005), ekstraksi 19 fungisida dalam buah dan sayur dengan pelarut aseton (Sannino, et al., 1999), ekstraksi residu pestisida dalam buah dan sayur dengan pelarut etil asetat (Chen, et al., 2011), ekstraksi 186 pestisida dalam 11 produk perkebunan dengan pelarut etil asetat (Hirahara, et al., 2005). KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dari penjabaran permasalahan yang ditemukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut, yaitu : 1. Pengendalian kontaminan termasuk insektisida pada sayuran segar diperlukan untuk mengurangi residu insektisida tersebut. 2. Residu pestisida golongan organokhlorin, organophosfat, karbamat dan piretroid ditemukan pada sayuran bayam, kangkung, sawi dan kacang panjang. 3. Residu pestisida dapat terurai melalui pencucian, penguapan, pelapukan, degradasi enzimatik, dan translokasi. 4. Perlu dilakukan pengawasan terhadap penggunaan pestisida melalui pemenuhan nilai BMR (Batas Maksimum Residu) sehingga dapat menjamin keamanan pangan dengan cara membatasi kadar residu pestisida pada komoditas pangan. B. SARAN Pengendalian kontaminan termasuk insektisida pada sayuran segar diperlukan untuk mengurangi residu insektisida tersebut. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain pencucian menggunakan air mendidih, air mengalir, larutan sabun, maupun ozon terlarut; pembersihan, pengupasan, dan pemotongan bagian akar maupun kulit terluar; pencelupan dalam air panas atau pemblansiran; dan penggunaan sanitizer DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2013. Buletin Konsumsi Pangan. Pusat Data dan Informasi Pertanian. Kementerian Pertanian RI. Jakarta. Anonymous. 2006. Bioremediation of Industrial Wastewater. Microbial Science Division. Chen, C., Qian, Y., Chen, Q., Tao, C., Li, C. & Li, Y. (2011). Evaluation of Pesticide Residues in Fruits and Vegetables from Xiamen. Food Control, 22, 1114-1120. Harunet. al. 1996.dalam Indraningsih; Y. Sani; R.Widastuti; E. Masbulan; dan M.Dianawati (Eds.).Pengendalian Kontaminan Pestisida di Lingkungan Pertaniandan Peternakan. Rianto, J.H. 2006.The Development of Pesticides Management Policy in Indonesia.Indonesian Report [11Juli 2006]. Lagu, A. M. H., Habibi, H., & Basri, S. (2015). Analisis Risiko Kesehatan Akibat Konsumsi Tomat (Lycopersicon esculentum) yang Mengandung Residu Profenofos di Kabupaten Gowa. HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan, 1(3), 144-154. Lehotay, Steven J; Katerina mastovska, Alan R Lightfield, 2005, Journal of AOAC International 88(2) : 615-629. Sanborn, M.D.; Cole, D.; Abelsohn, A.; Weir, E. 2002. Identifying and Managing Adverse Environmental Health Effect : 4. Pesticides. Canadian Medical Association J. 166 (11):1431-1436. Winarti, C., dan Miskiyah. 2010. Status Kontaminan pada Sayuran dan Upaya Pengendaliannya di Indonesia. Pengembangan Inovasi Pertanian. 3(3): 227-237.

Inggris

IDENTIFICATION OF PESTICIDES RESIDUES ON VEGETABLES BY: SINCERELY PAUL KIMHAM SIMANJUNTAK SOEKARNO HATTA AGRICULTURE QUARANTINE CENTER TANGERANG 2019 PRELIMINARY A. BACKGROUND The diversity of food types and nutritional balance in the pattern of food consumption is needed by the body for a healthy, active and productive life. Vegetables and fruits are one of the food groups in the FAO classification, known as the desirable dietary pattern (PPH). This food group functions as a source of vitamins and minerals, so the lack of consumption negatively affects the nutritional conditions. Therefore it is necessary to consume vegetables and fruits together with other food groups so that general health conditions can be achieved. Besides functioning as a source of vitamins and minerals, various types of vegetables also function as a source of antioxidants and fiber that cannot be replaced by other food ingredients. Along with the increase in population and the welfare of the community, the needs for the type and quality of food products are also increasing and varied (Anonymous, 2013). Vegetable production often faces obstacles from pests and diseases that cause crop failure or reduced yields.One of the methods used to treat pests and diseases is the use of pesticides. Pesticide is a chemical substance and other materials of microorganisms, viruses, etc., whose purpose is to control or kill pests and diseases that attack plants, plant parts, and agricultural products, eradicate grass / weeds, regulate, and stimulate plant growth or plant parts , but not fertilizers (Rianto 2006 and Sanborn et al., 2002). Integrated pest control program (IPM) proves that the production of agricultural products is carried out not only by considering the high level of production, but also the aspects of production sustainability, environmental sustainability, and food security (Harun et al., 1996). The use of insecticides in food crops, including vegetables, has increased 20-fold over the past 25 years. Although IPM has been applied, in practice there are still many farmers who use pesticides excessively. Pesticides contained in plants can be absorbed by crops in the form of residues that can be consumed by consumers. Pesticide residues can come from pesticides that are exposed directly to the product or are absorbed in the soil, especially in plants where tubers are harvested (Winarti and Miskiyah, 2010). B. PURPOSE Writing about the identification of pesticide residues in vegetables carried out has the following objectives, namely: 1Excessive use of insecticides in food crops, including vegetables that can be consumed by consumers can cause health problems in humans 2. To find out and study the types of pesticide residues in food plants, including vegetables LITERATURE REVIEW Vegetables are one of the healthy menus to meet the needs of balanced nutrition, both green and other colorful vegetables. The environment in which vegetables grow greatly influences the quality of vegetables, especially soil types and watering water. Vegetables that grow in areas polluted or doused with polluted water, indicate these vegetables can be contaminated by dangerous substances, especially heavy metals. Vegetables are one of the healthy menus in fulfilling balanced nutritional needs, both green and other colorful vegetables (Balanced Nutrition / PMK.41 / 2014). The main problem in the cultivation of vegetables is the attack of pests and plant diseases that can reduce the quality and quantity of production. Therefore, farmers use pesticides to overcome these pests and plant diseases. The use of pesticides that are not in accordance with the rules causes vegetables to be contaminated by these pesticides. As a result, many vegetables on the market contain pesticide residues that exceed the maximum limit (BMR).Organophosphate insecticide residues were found in chilli and carrot vegetables with profenofos content of 0.11 mg / kg, deltamethrin 7.73 mg / kg, chlorpyrifos 2.18 mg / kg, tulubenzuron 2.89 mg / kg, and permethrin 1.80 mg / kg mg / kg (Soemirat, 2003). Diazinon pesticide residues in shallots from Alahan Panjang and Sungai Nanam, Lembah Gumati Padang District, have passed BMR values ​​of 2.006 mg / kg and 1.764 mg / kg (Asmita, 2010). Spinach, kale, mustard greens / caisim are vegetables that contain high enough calories, carbohydrates and protein can help in the fulfillment of protein and carbohydrate nutritional deficiencies. Healthy vegetables are vegetables that are free of pollutants or microbes that endanger health. Common pollutants in the groundwater and air environment can come from heavy metals. For vegetables other than heavy metals the threat of contamination of hazardous substances comes from pesticides (Song et al, 2015). Excessive use of pesticides and mishandling of vegetables after harvest, causing vegetables to be unhealthy for consumption. Based on the results of research by Tuhumury et al (2012), it was found that pesticide residues from organochlorine, organophosphate, carbamate and pyrethroid were found in spinach, kale, mustard greens and long beans. The environment in which vegetables grow greatly influences the quality of vegetables, especially soil types and watering water.Vegetables that grow in areas polluted or doused with polluted water, indicate these vegetables can be contaminated by dangerous substances, especially heavy metals. According to Indrajati, et al in his research on Lead content in kale vegetables it was stated that the Pb content in kale 6 weeks old was 3.36 mg / kg which exceeds the maximum allowable amount of 2 mg / kg (POM Body). Whereas the mercury (Hg) content in rice harvested from rice fields by irrigation of traditional gold mining wastewater in Nunggul and Kalongliud around Pongkor, Bogor, West Java reached 0.45 and 0.25 ppm (Sutono, 2002) Anonymous (2005). For types of vegetables that are not green, no pesticides were detected, namely ≥0.1 mg / kg in accordance with the results of the study of Elvinali Herdariani, et al. Chinese mustard greens pesticide content is still below the threshold of 0.0197 mg / kg in accordance with the study of Vivi Filia Elvira, et al. Vegetables are food sources that contain lots of vitamins and minerals which directly play a role in improving health. Therefore, hygiene and safety of vegetables consumed are very important so as not to cause health problems. Some types of vegetables circulating in the community are not guaranteed safety because they are suspected to have been contaminated with heavy metals such as lead (Pb), cadmium (Cd), or mercury (Hg).According to Astawan (2005), heavy metals when they enter the body through food will accumulate continuously and in the long term can lead to nervous system disorders, paralysis, and premature death and a decrease in the intelligence level of children. Pesticide residues can be stored in the soil for years and can damage the composition of soil microbes, as well as disrupt aquatic ecosystems. Pesticide residues can be leached from the soil through surface water (erosion) so that it moves to other locations around it. Pesticide residues in plants can enter plant tissue or plant surfaces. Some types of lipophilic pesticides tend to accumulate in the waxy layers and plant fat in the skin. Pesticides enter plant tissues through the process of plant adsorption and in plant tissue pesticides spread through the process of plant translocation and metabolism (Norris, 1974). The process of degradation of pesticide residues is the process of breaking down pesticides after they are used through microbial processes, chemical reactions, and sunlight. Pesticide residues can decompose through washing, evaporation, weathering, enzymatic degradation, and translocation. Pesticides can move to other locations on the surface of the land due to erosion, water flow, rivers, sea and wind gusts. The duration of the process of degradation of pesticide residues depends on environmental conditions and chemical properties of pesticides (Manuaba, 2009).The amount of pesticide residues in plants depends on the method, time, frequency of application, and dosage. The results of Dibyantoro's research (1979) state that the closer the time of use of pesticides with the harvest period will cause an increase in the amount of pesticide residues in plants. Agricultural products circulating in Indonesia, both domestic and foreign, must not contain pesticide residues exceeding the Maximum Residue Limit (BMR). BMR is defined as the maximum concentration of pesticide residues that are legally permitted or known as acceptable concentrations on agricultural products, foodstuffs, or animal feed ingredients. These concentrations are expressed in milligrams of pesticide residues per kilogram (Working Group on the Revision of Methods for Analysis of Pesticide Residues on Agricultural Products, 2004). Each country has an agricultural policy regarding maximum residual limits. The permitted BMR varies in each country depending on the region and climatic and geographical conditions. The maximum international residual limit was issued by FAO and WHO in 1963 regarding the development of international food standards, codes of implementation guidelines, and recommendations for food safety. International standards relating to food are the result of the formulation of the Codex Alimentarius Commission (CAC). CAC is an intergovernmental body formed by FAO and WHO (Joint FAO / WHO Food Standards Program).Codex was formed with the aim of among others to protect the health of consumers, ensure fair practices in international food trade and promote coordination of food standardization work carried out by other international organizations (Minister of Maritime Affairs and Fisheries, 2012). Therefore, it is necessary to supervise the use of pesticides by fulfilling the BMR (Maximum Residue Limit) value so as to ensure food safety by limiting the levels of pesticide residues in food commodities. Organophosphate compounds are compounds that are toxic because they affect the nervous system by disrupting the action of an enzyme that regulates acetylcholine, which is a neurotransmitter that is needed for our nerves to work normally. In general, organophosphate pesticides are included in insecticides. This pesticide is not persistent both in the environment and in living things, including plants. As a result, to obtain effective levels of pesticides is needed spraying with increasing frequency. Organochlorine compounds are non-volatile, insoluble in water, except lindane, easily dissolved in organic solvents. In the environment is persistent, while in plant tissues undergo biotransformation into metabolites that can be more toxic.Food samples, such as vegetables, fruit and medicinal plant samples, have a very complex matrix arrangement that requires optimal, economical and efficient optimal extraction for routine analysis. Various organochlorine and organophosphate pesticide extraction procedures that have been published in scientific articles include, extraction of pesticides from fruits and vegetables with SPE with acetonitrile solvent (Supelco, 1997), sample preparation for the analysis of pesticide residues in vegetables and fruits using acetonitrile (Takatou et al. ., 2011), extraction of 229 pesticides in fruits and vegetables with acetonitrile solvent (Lehotay, et al., 2005), extraction of 19 fungicides in fruits and vegetables with acetone solvents (Sannino, et al., 1999), extraction of pesticide residues in fruit and vegetables with ethyl acetate solvent (Chen, et al., 2011), extraction of 186 pesticides in 11 plantation products with ethyl acetate solvent (Hirahara, et al., 2005). CONCLUSIONS AND RECOMMENDATIONS A. CONCLUSION Based on the results of the elaboration of the problems found, the following conclusions can be drawn, namely: 1. Contaminant control including insecticides on fresh vegetables is needed to reduce the insecticide residues. 2. Organochlorine, organophosphate, carbamate and pyrethroid pesticide residues are found in spinach, kale, mustard greens and long beans. 3Pesticide residues can decompose through washing, evaporation, weathering, enzymatic degradation, and translocation. 4. It is necessary to supervise the use of pesticides by fulfilling the value of BMR (Maximum Residue Limit) so that it can guarantee food safety by limiting the levels of pesticide residues in food commodities. B. SUGGESTIONS Contaminant control including insecticides on fresh vegetables is needed to reduce the insecticide residues. Some ways that can be done include washing using boiling water, running water, soap solution, and dissolved ozone; cleaning, stripping, and cutting the root and outer shell; immersion in hot water or dyeing; and the use of sanitizers REFERENCES Anonymous. 2013. Food Consumption Bulletin. Center for Agricultural Data and Information. Indonesian Ministry of Agriculture. Jakarta. Anonymous 2006. Bioremediation of Industrial Wastewater. Microbial Science Division. Chen, C., Qian, Y., Chen, Q., Tao, C., Li, C. & Li, Y. (2011). Evaluation of Pesticide Residues in Fruits and Vegetables from Xiamen. Food Control, 22, 1114-1120. Harunet al. 1996.in Indraningsih; Y. Sani; R.Widastuti; E. Masbulan; and M. Dianawati (Eds.), Control of Pesticide Contaminants in the Farm and Livestock Environment. Rianto, J.H.2006.The Development of Pesticides Management Policy in Indonesia. Indonesian Report [11 July 2006]. Song, A. M. H., Habibi, H., & Basri, S. (2015). Health Risk Analysis Due to Consumption of Tomato (Lycopersicon esculentum) Containing Profenofos Residues in Gowa Regency. HIGIENE: Journal of Environmental Health, 1 (3), 144-154. Lehotay, Steven J; Katerina mastovska, Alan R Lightfield, 2005, Journal of AOAC International 88 (2): 615-629. Sanborn, M.D .; Cole, D .; Abelsohn, A .; Weir, E. 2002. Identifying and Managing Adverse Environmental Health Effects: 4. Pesticides. Canadian Medical Association J. 166 (11): 1431-1436. Winarti, C., and Miskiyah. 2010. Contaminant Status in Vegetables and Control Efforts in Indonesia. Agricultural Innovation Development. 3 (3): 227-237.

TerjemahanSunda.com | Bagaimana cara menggunakan terjemahan teks Indonesia-Inggris?

Semua terjemahan yang dibuat di dalam TerjemahanSunda.com disimpan ke dalam database. Data-data yang telah direkam di dalam database akan diposting di situs web secara terbuka dan anonim. Oleh sebab itu, kami mengingatkan Anda untuk tidak memasukkan informasi dan data pribadi ke dalam system translasi terjemahansunda.com. anda dapat menemukan Konten yang berupa bahasa gaul, kata-kata tidak senonoh, hal-hal berbau seks, dan hal serupa lainnya di dalam system translasi yang disebabkan oleh riwayat translasi dari pengguna lainnya. Dikarenakan hasil terjemahan yang dibuat oleh system translasi terjemahansunda.com bisa jadi tidak sesuai pada beberapa orang dari segala usia dan pandangan Kami menyarankan agar Anda tidak menggunakan situs web kami dalam situasi yang tidak nyaman. Jika pada saat anda melakukan penerjemahan Anda menemukan isi terjemahan Anda termasuk kedalam hak cipta, atau bersifat penghinaan, maupun sesuatu yang bersifat serupa, Anda dapat menghubungi kami di →"Kontak"


Kebijakan Privasi

Vendor pihak ketiga, termasuk Google, menggunakan cookie untuk menayangkan iklan berdasarkan kunjungan sebelumnya yang dilakukan pengguna ke situs web Anda atau situs web lain. Penggunaan cookie iklan oleh Google memungkinkan Google dan mitranya untuk menayangkan iklan kepada pengguna Anda berdasarkan kunjungan mereka ke situs Anda dan/atau situs lain di Internet. Pengguna dapat menyisih dari iklan hasil personalisasi dengan mengunjungi Setelan Iklan. (Atau, Anda dapat mengarahkan pengguna untuk menyisih dari penggunaan cookie vendor pihak ketiga untuk iklan hasil personalisasi dengan mengunjungi www.aboutads.info.)